Achmad Budi Cahyanto Dikenal Sosok Guru Penyabar

Sampang – Ahmad Budi Cahyanto (27), guru SMAN 1 Torjun, Kabupaten Sampang, yang meninggal dunia akibat dianiaya oleh siswanya sendiri inisial H (17), Kamis (1/2/2018) kemarin, dikenal sebagai sosok penyabar dan suka bermain alat musik jenis biola.

Istri korban, Sianit Shinta (22) mengatakan, keseharian suaminya usai mengajar selalu pulang ke rumah dan jarang menceritakan kejadian yang dialaminya kalau tidak ditanya. Sehingga, sang guru kesenian itu tidak banyak bicara namun bijak dalam mengambil keputusan.

“Saya ihklas dengan kepergian suami. Tapi saya berharap khususnya kepada polisi agar kasus ini diusut hingga tuntas,” terangnya, Sabtu (3/2/2018).

Shinta juga menjelaskan, saat pulang dari sekolah, Kamis (1/2/2018). Korban tidak pernah menceritakan kejadian yang menimpa dirinya. Namun, Korban langsung tidur dengan posisi miring di kamarnya.

Korban sempat dibangunkan. Tapi, belum bisa bangun dan dikira sedang tidur nyenyak. Setelah bangun, sembari menunduk korban mengeluh sakit kepala lalu Shinta menanyakan penyebab sakit kepala suaminya.

“Mau makan Mas! Dia cuma geleng-geleng. Kenapa Mas? Bilang sakit sambil pegang kepalanya,” ujarnya.

Shinta kemudian, menyuruh adiknya keluar rumah untuk cari nomor handphone dokter di ponselnya. Namun, nomor yang dicari tidak ditemukan. Begitu adik kembali, korban langsung muntah air.

“Kenapa Mas? Apa kamu jatuh dari motor atau jatuh kepleset Mas? Dia bilang sakit diantem murid,” lanjut Shinta mengulang pertanyaan dan menirukan ucapan suaminya.

Seusai menjawab pertanyaan dari seorang istri yang sedang hamil lima bulan bahwa dia dipukul oleh siswanya di sekolah, korban minta minum dan makan. Baru dapat dua suapan, tiba-tiba muntah lagi serta ditidurkan.

Karena korban sudah tidak sadarkan diri, korban langsung dilarikan ke Puskesmas Jrengik. Karena pihak Puskesmas tidak mampu, lalu dirujuk ke RSUD Kabupaten Sampang.

RSUD Sampang pun mengaku tidak sanggup menangani kondisi pasien dan langsung dirujuk ke RSUD dr. Soetomo Surabaya. Pada pukul 21:40 WIB, korban dinyatakan meninggal dunia.

Atas kasus tersebut, Shinta istri korban meminta penegak hukum agar pelaku dapat divonis dengan hukuman yang setimpal atau hukuman berat.

Sementaran, ayah korban, Satuman mengaku sangat terpukul atas peristiwa yang dialami anaknya dengan status masa pernikahan masih satu tahun tiga bulan. Hal itu, ia anggap sebagai ujian bagi keluarganya.

“Saya ikhlas menerima ujian ini. Namun, harapan saya agar penegak hukum atau polisi bisa menyelesaikan kasus ini sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku,” tandasnya