Jakarta – dari data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa per Februari 2022, tingkat pengangguran Indonesia sebesar 5,83 persen dari total penduduk usia kerja. Sebagai informasi, total penduduk usia kerja adalah sebanyak 208,54 juta orang.

Nah ternyata, sebanyak 35,2 juta orang atau 14 persen dari angka pengangguran itu berasal dari lulusan jenjang diploma dan sarjana (S1), lho! Kok bisa? Menurut Head of Human Capital dari PT Praweda Ciptakarsa Informatika, Alfeus Nehemia, terdapat tiga alasan mengapa jenjang diploma dan sarjana banyak yang menjadi pengangguran.
Alasan Lulusan Diploma dan Sarjana Banyak Menjadi Pengangguran

1. Keterampilan Tak Sesuai Kebutuhan


Sebagai seorang human capital, Alfeus mengungkapkan ia kerap kali dihadapkan pada kondisi sulit mencari orang yang layak dipekerjakan sesuai dengan kualifikasi. Banyak dari pendaftar menawarkan keterampilan yang tidak relevan atau tidak dibutuhkan oleh perusahaan saat ini.

“Kalau kalian bilang susah ya cari kerja, kami sebagai perusahaan juga bilang, susah ya cari karyawan. Akibat adanya mismatch antara keterampilan yang dibutuhkan dan yang tersedia,” ungkapnya dikutip dari laman resmi Unair, Senin (20/6/2022).

2. Ekspektasi Penghasilan dan Status Tinggi

Tidak jarang, lulusan diploma atau sarjana dari perguruan tinggi bergengsi memiliki ekspektasi tinggi pada lapangan pekerjaan. Mereka menilai mudah untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi.

Hal ini membuat beberapa lulusan dari perguruan tinggi bergengsi terlalu percaya diri. Bahkan mereka melabeli dirinya dengan fresh grade tinggi meski belum tentu memiliki kompetensi yang layak.

“Perusahaan nggak hanya melihat almamater sekolahmu saja, namun kita juga melihat kompetensinya seperti apa, layak tidak kita bayar tinggi,” ujar alumni FISIP Unair itu.

3. Terbatasnya Penyedia Lapangan Kerja


Terbatasnya lapangan kerja bukanlah hal yang baru sebagai penyebab pengangguran. Hal ini diperburuk dengan adanya pandemi Covid-19 yang menyebabkan pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran. Terbatasnya lapangan kerja dan PHK massal menyebabkan jumlah pengangguran tidak sebanding dengan lapangan kerja yang ada.

“Hampir 29,12 juta penduduk usia kerja terdampak pandemi. Mungkin sudah sedikit recover, namun perlu diingat lulusan baru yang menunggu mendapatkan pekerjaan selalu bertambah tiap tahunnya,” ungkapnya.

Oleh karena itu, lanjutnya, mencari kerja bagi generasi muda pasca-pandemi akan penuh dengan tantangan.

“Karena harus bersaing dengan ribuan orang untuk memperebutkan lapangan kerja yang semakin sedikit,” tandasnya.

By admin

Leave a Reply